Rabu, 12 Mei 2010

Healthy Food = Makanan Jepang


Segar dan sehat. Itulah kesan yang melekat pada masakan Jepang. Tak hanya sayuran dan ikan segar, bumbu yang tanpa tambahan MSG juga baik untuk kesehatan.

Menu masakan Jepang sering dijadikan rujukan para vegetarian atau mereka yang menjalani diet rendah lemak. Umumnya, bahan-bahan untuk masakan Jepang berupa beras dan hasil pertanian (sayur-sayuran dan kacang-kacangan).

Mengingat potensi sumber daya laut Jepang cukup kaya, makanan laut (seafood) kerap dijumpai dalam ragam menu mereka. Bahkan, tak sedikit orang Jepang menyantapnya dalam keadaan segar dan mentah. Saat ini, masakan asli Jepang sulit ditemukan, sekalipun di negara asalnya. Masakan ala Jepang yang ada sekarang sering merupakan perpaduan berbagai bahan makanan dan masakan dari berbagai negara.

Seiring menjamurnya restoran Jepang di berbagai negara, menu-menu yang kemudian dikategorikan masakan Jepang pun kian beragam. Di Indonesia, makanan seperti sushi, tempura, shabushabu dan sukiyaki cukup populer.

Guna menambah daya tarik, banyak restoran Jepang mengkreasikan sendiri atau mengadopsi resep masakan Jepang dan menyesuaikan dengan cita rasa setempat (lokal) tanpa menghilangkan esensi dari masakan itu sendiri, yaitu fresh and healthy.

”Kami menyediakan berbagai jenis menu masakan Jepang. Beberapa menu ada yang asli Jepang, ada yang diadopsi mengikuti lidah orang Indonesia, dan ada juga yang hasil kreasi sendiri,” kata Joy Kameron, pemilik restoran Jepang Takigawa yang berlokasi di Senayan City, Jakarta Selatan.

Menurut pria yang menggeluti bisnis food and beverage sejak 1995 ini, selain mutu masakan dan cara pengolahan yang benar, hal lain yang juga tak kalah penting adalah kesegaran bahan mentah.

Misalnya ikan salmon yang diimpor dari Jepang. Itu benar-benar kami jaga mutunya, kualitasnya juga dipilih yang nomor satu,” ungkap Joy. Dia mengatakan, ikan salmon biasanya hanya tahan 3–4 hari, selepas itu sudah tidak segar lagi. Contoh menu yang menggunakan toping ikan salmon mentah yang segar adalah california roll yang merupakan jenis sushi.

Kendati kecil bentuknya, tapi banyak kandungan gizinya. ”Aneka sushi merupakan salah satu menu yang banyak difavoritkan pengunjung,” kata Chef Takigawa. Gurih dan empuknya nasi sushi semakin mantap jika Anda mencelupkannya ke dalam shoyu (sejenis kecap asin) yang diberi sedikit wasabi (akar tumbuhan yang diparut halus; warnanya hijau dengan rasa yang ”panas”). Celupkan sedikit saja, sebab jika terlalu dalam, nasi akan menyerap shoyu sehingga rasa jadi terlalu asin. Rasakan juga gurihnya telur ikan terbang (tobiko) saat ”berenang” di lidah.

Jika terasa sedikit amis saat menyantap salmonnya, segera ambil gari (sejenis acar jahe berwarna merah muda dengan rasa yang pedas tapi segar). Masih belum puas dengan california roll? Coba juga takigawa roll yang mengandung lebih banyak seafood. Alternatif menu lain yang juga berbahan dasar seafood dengan rasa yang agak pedas adalah seafood spicy yang akan membuat lidah Anda bergoyang. Atau jika Anda penggemar fanatik nasi goring, tapi ingin tetap menikmati seafood, pesan saja cahan yang merupakan campuran nasi goreng dengan aneka seafood yang dipotong kecil-kecil. Bagi penyuka sayuran juga bisa mencicipi kesegaran wakame salad.

Bahan utamanya adalah lobak dan rumput laut nan lembut yang dicampur salad oil dan kecap khas Jepang. Rasanya unik dan segar, ada manis, asam, dan asin. Penambahan katsuobushi juga menyelipkan sedikit rasa ikan di antara dominasi sayuran.

”Menu ini banyak dipesan terutama oleh pengunjung wanita,” kata Direktur Operasional Takigawa Chally Kameron. Dengan konsep semi-fine dining, Chally menuturkan, pengunjung tetap bisa menikmati aneka menu masakan dengan harga relatif murah.

Didukung interior cozy, tamu yang datang juga bisa menikmati pemandangan keluar lewat jendela kaca yang lebar. Selain itu, nuansa Jepang juga lebih terasa dengan adanya para pelayan wanita berseragam kimono, serta pelayan pria yang mengenakan seragam putih dan ikat kepala.

”Irasshaimase!” demikian sapaan selamat datang dalam bahasa Jepang yang selalu mereka ucapkan pada setiap pengunjung yang datang. Dan sebagai ungkapan terima kasih, ”Arigato gozaimasu!” menjadi ucapan wajib mereka ketika pengunjung berpamitan.

(sumber : Okezone.com)

Label: , , , ,

Senin, 10 Mei 2010

Penyajian makanan

Makanan utama di Jepang terdiri dari nasi (kadang-kadang dicampur palawija), sup dan lauk. Lain halnya dari masakan Cina atau masakan Eropa, masakan Jepang tidak mengenal tahapan (course) dalam penyajian. Dalam budaya makan Eropa atau Cina, makanan disajikan secara bertahap, mulai dari hidangan pembuka, sup, hidangan utama, dan diakhiri dengan hidangan penutup. Masakan Jepang dihidangkan semuanya secara sekaligus. Dalam hal penyajian hidangan, dalam masakan Jepang tidak dikenal perbedaan antara tata cara penyajian di rumah dengan tata cara penyajian di restoran. Jamuan makan dan kaiseki merupakan pengecualian karena makanan disajikan secara bertahap.


Dalam hal menikmati makanan, masakan Jepang bisa dengan mudah dibedakan dari masakan Eropa atau masakan Cina. Rasa dicampur sewaktu makanan Jepang berada di dalam mulut. Asinan sayur-sayuran mungkin terasa terlalu asin kalau dimakan begitu saja, namun asinan terasa lebih enak ketika dimakan dengan nasi putih. Dalam masakan Jepang, bahan makanan tidak diolah secara berlebihan. Makanan harus mempunyai rasa asli bahan makanan tersebut. Cara memasak atau penyiapan makanan hanya bertujuan menampilkan rasa asli dari bahan makanan. Makanan juga sama sekali tidak dimasak dengan bumbu yang berbau tajam. Masakan Jepang tidak mengenal teknik memasak yang bisa merusak penampilan bahan dan kesegaran bahan makanan.


Juru masak masakan Jepang dituntut serba bisa dalam berbagai bidang. Mereka dituntut memiliki keahlian dalam pengolahan bahan makanan, pengetahuan tentang alat-alat makan, serta pemilihan suasana yang tepat untuk menikmati makanan. Masakan Jepang sangat berbeda dari masakan Perancis yang sangat maju dalam pembagian keahlian di dapur dan pelayanan terhadap tamu di ruang makan.


Peralatan makan untuk masakan Jepang umumnya dibuat dari keramik, porselen, atau kayu yang dipernis dengan urushi. Di rumah keluarga Jepang, setiap anggota keluarga memiliki mangkuk nasi dan sumpit sendiri, dan tidak saling dipertukarkan dengan milik anggota keluarga yang lain. Sumpit yang dipakai bisa berupa sumpit kayu, sumpit bambu, atau sumpit sekali pakai. Sebelum teknik pembuatan keramik dikenal di Jepang, sebagian besar alat makan dibuat dari kayu yang dipernis. Alat makan dari porselen umumnya diberi hiasan gambar-gambar yang berfungsi sebagai penghias hidangan.


Masakan Jepang memiliki aturan yang sangat longgar menyangkut bentuk alat makan dari keramik. Piring bisa saja berwarna gelap atau berbentuk persegi empat, sehingga sangat mencolok dibandingkan piring makanan Eropa atau Amerika. Alat makan untuk makanan Jepang terlihat sangat berbeda dengan alat makan untuk masakan Cina atau Korea. Masakan Cina menggunakan piring bundar dari porselen dengan hiasan sederhana, sementara masakan Korea memakai porselen putih tanpa hiasan atau alat makan dari logam.

Sumber : Wikipedia.com

Label: , , ,